Seluruh Indonesia
Infaq untuk pengadaan asrama rumah kepemimpinan angkatan 13
Di Rumah Kepemimpinan (RK), pembinaan tidak berhenti di kelas.
Yang paling membentuk justru hal-hal kecil yang berulang setiap hari: bangun pagi saat lelah, menjaga subuh ketika sendiri mudah lalai, WBS bareng, diskusi setelah agenda resmi selesai, dan teman satu atap yang mengingatkan untuk tetap lurus di jalan kebaikan. Karena itu, asrama bukan fasilitas tambahan. Ia adalah instrumen pembinaan.
Kita sudah melihat buktinya.
Ada peserta seperti Zidni yang tumbuh dari keluarga sederhana, ayahnya tukang gorengan. Di asrama, ia belajar hidup bersama, menjaga ritme, saling menolong, dan naik kelas pelan-pelan. Hari ini ia melangkah lebih jauh: kuliah di kampus terbaik, merintis proyek, dan memberi dampak nyata.
Ada juga Ilham Ryan dari Surakarta, yang bersama timnya membangun organisasi consulting di kampusnya hingga berskala internasional, mengembangkan bisnis yang sudah menjual ribuan unit, dan menjuarai kompetisi nasional. Ilham tahu, capaian itu bukan hanya soal kerja keras pribadi—tapi karena ia bertumbuh dalam lingkungan asrama yang membuat proses belajar, ibadah, dan berkarya menyatu.
Di Yogyakarta, Jires menemukan rumah keduanya bukan lewat bangunan megah, tapi lewat satu atap yang membentuknya pelan-pelan. Di asrama ia belajar mengenal diri, menjaga mental, dan kembali sujud saat lelah. Ia bahkan menyebut hal paling rapuh bila hidup sendirian: konsistensi. Dan asrama menjaganya lewat lingkungan yang saling menguatkan.
Dan ada Zikra di Yogyakarta Putri yang bilang RK bukan sekadar seminar. Pembinaan paling efektif terjadi ketika hidup bareng 24 jam: dibina dari hal kecil, dilatih konsisten, dan diselamatkan oleh teman serta fasil saat hampir menyerah. Baginya, asrama adalah “jembatan” menuju pembinaan yang lebih besar: kebiasaan, lingkungan, dan visi yang sama.
Itulah inti dari asrama RK: ruang hidup yang menjaga proses tumbuh.

Namun hari ini, banyak asrama di berbagai regional berada di titik rentan, sebagian terancam tidak bisa lanjut, sebagian belum aman untuk angkatan berikutnya, dan sebagian masih membutuhkan penguatan agar layak, aman, dan mendukung pembinaan harian.

Jika asrama hilang, yang hilang bukan sekadar tempat tidur.
Yang hilang adalah ritme. Kebiasaan baik. Lingkungan yang menahan peserta ketika hampir goyah. Dan ruang pembinaan yang membuat mereka bertumbuh bersama.
Karena itu, kami membuka campaign Pengadaan/Pengamanan Asrama RK untuk seluruh regional, agar setiap peserta, di kota mana pun, tetap punya ruang yang menjaga pembinaan tetap utuh.
Setiap donasi yang kamu berikan bukan sekadar bantuan finansial.
Ia adalah langkah nyata menjaga ruang tumbuh para pemimpin masa depan, agar lebih banyak “Zidni”, “Ilham”, “Jires”, dan “Zikra” berikutnya bisa lahir.