Seluruh Indonesia
Mari bersama-sama memberikan bingkisan Lebaran untuk Pak Muslih dan guru-guru TPQ lainnya. Semoga bantuan yang kita berikan bisa menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus menebarkan cahaya kebaikan bagi anak-anak bangsa.
Bantu Pak Muslih dan Guru-Guru TPQ Al Mujahadah : Cahaya bagi Generasi Penerus Bangsa

Pak Muslih—begitu ia akrab disapa—adalah seorang guru mengaji yang telah mengabdikan dirinya selama belasan tahun untuk membimbing anak-anak belajar mengaji. Lahir pada tahun 1984, pria asal Jeron, Nogosari, Boyolali, Jawa Tengah ini menjalani kesehariannya dengan penuh keikhlasan.
Pagi hingga siang, ia berdagang perabotan rumah tangga di pasar untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Waktu sorenya, ia persembahkan untuk berdakwah, mengajar anak-anak mengaji dengan penuh kesabaran.

Pak Muslih mengajar empat hari dalam sepekan—tiga hari di TPQ Al Mujahadah, Purworejo, dan satu hari di TPQ Miftahul Jannah, Ringinpitu, Boyolali. Perjalanannya sebagai pendidik dimulai sejak tahun 1998, saat ia masih duduk di bangku SMP, hingga saat ini berusia 40 tahun

Alasannya sederhana, namun sangat mulia: Pak Muslih ingin memperbaiki lingkungan tempat tinggalnya yang saat itu banyak dipenuhi praktik perjudian dan berbagai pelanggaran moral. Dengan keyakinan kuat, ia percaya bahwa perubahan dimulai dari pendidikan, dari membimbing generasi muda agar tumbuh dengan nilai-nilai kebaikan.
Kini, ada sekitar 75 santri yang belajar mengaji kepada Pak Muslih bersama 25 guru lainnya. Para santri ini berasal dari berbagai jenjang, mulai dari anak-anak TK hingga SMP. Sebagian besar berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi.
Namun, bagi Pak Muslih, mengajar bukanlah tentang mencari keuntungan. Ia tidak tega meminta bayaran kepada santri-santrinya, bahkan untuk sekadar membeli seragam atau mendukung kegiatan belajar mengajar. Karena itu, ia kerap berkeliling mencari donasi, membawa proposal dari satu orang ke orang lain, meskipun sering kali berujung pada penolakan.

Di sisi lain, usaha berdagang perabotan rumah tangga di pasar yang ia jalani pun tidak selalu memberikan hasil. Terkadang ia hanya mendapat Rp100.000 hingga Rp150.000 per hari, bahkan sering kali tidak mendapatkan penghasilan sama sekali.

Dengan lima anak yang harus dinafkahi, keadaannya tidaklah mudah. Namun, ia tetap bersyukur.
“Biasanya 100-150 sehari, kadang nggak dapet juga, Mbak. Tapi ya dicukup-cukupkan, alhamdulillah. Istri saya nanam sayur-sayuran di belakang rumah buat memenuhi kebutuhan. Sedih sekali, apalagi saat anak perempuan saya yang usianya empat tahun ingin sesuatu karena lihat dari TV, tapi saya belum bisa membelikannya,” ungkapnya lirih.

Mereka yang mengabdikan diri sebagai guru ngaji seperti Pak Muslih adalah penerang kehidupan, membimbing generasi muda agar tumbuh dengan akhlak yang baik. Sudah sepantasnya kita turut membantu mereka mendapatkan kehidupan yang lebih layak.
Mari bersama-sama memberikan bingkisan Lebaran untuk Pak Muslih dan guru-guru TPQ lainnya. Semoga bantuan yang kita berikan bisa menjadi penyemangat bagi mereka untuk terus menebarkan cahaya kebaikan bagi anak-anak bangsa.