Sumatera Utara
infaq sewa asrama regional medan rumah kepemimpinan, pembinaan 2 tahun
Muhammad Ibadurrahman datang ke perantauan sebagai seorang mahasiswa.

Di Rumah Kepemimpinan, ia tinggal di asrama. Bukan sekadar tempat singgah, tapi ruang pembentukan. Asrama RK adalah wadah pembinaan mahasiswa Indonesia agar siap menghadapi masa depan dengan pemahaman agama dan kebangsaan yang kuat. Lingkungan yang sengaja dibangun produktif, agar peserta tumbuh mandiri, terarah, dan terus terdorong untuk berkarya.
Ada satu adegan harian yang paling “RK banget” bagi Ibad.
Menjelang subuh, suasana asrama mulai hidup. Saling membangunkan untuk sholat tahajud. Berangkat ke masjid bersama. Pulang bersama. Rutinitas sederhana, tapi di sanalah kebiasaan baik dibentuk, kebersamaan dalam ketaatan, sesuatu yang tidak semua mahasiswa miliki.

Sejak tinggal di asrama, ritme hidupnya berubah nyata.
Urusan dunia tak lagi menjadi poros utama. Justru ibadah, bahkan ibadah sunnah, yang mengatur keseharian. Dari situ, fokus belajar, kerja, dan target hidup ikut tertata.
Asrama juga menjadi tempat paling aman ketika ia, atau temannya, sedang jatuh.
Saat sakit, saat mental melemah, terutama bagi mereka yang jauh dari orang tua. Di asrama, tidak ada yang benar-benar sendiri. Teman-teman se-asrama adalah orang pertama yang mengurus, memastikan ada pengobatan, ada perhatian, ada kepedulian.
Jika hidup sendiri, banyak hal rapuh yang mudah runtuh.
Konsistensi. Kontrol diri. Istiqomah.
Asrama menjaga semua itu, menjaga ruh agar tetap lurus dalam ibadah, dan konsisten dalam mengejar prestasi.
Bayangkan jika angkatan berikutnya tak lagi merasakan hidup berasrama dan harus menjalani pembinaan secara online.
Yang hilang bukan sekadar fasilitas, tapi proses: rasa kekeluargaan “sahabat sampai surga” yang hingga hari ini masih terjaga, serta pembinaan langsung seperti tahsin bersama guru yang kompeten, proses yang sulit tergantikan oleh layar.

Bagi Ibad, asrama adalah penopang penting perjalanan hidupnya.
Jika dulu asrama “padam” saat ia masih menempuh S1, ia percaya dirinya mungkin tidak sekuat ini menghadapi godaan dan cobaan di kampus, dan dampaknya bisa terbawa hingga ia melanjutkan studi S2 di luar kota.
Karena itu, ia menitipkan satu pesan untuk para donatur:
“Tolong selamatkan asrama ini, karena di dalamnya terdapat harapan-harapan mahasiswa yang masih mereka perjuangkan, untuk membanggakan orang tua dan kelak berguna bagi masyarakat.”
Muhammad Ibadurrahman
Peserta Rumah Kepemimpinan
Regional Medan | Angkatan 11
Asrama bukan sekadar bangunan.
Ia adalah proses yang menjaga arah hidup.
Dan setiap donasi adalah ikhtiar agar proses itu tetap utuh—untuk lebih banyak mahasiswa seperti Ibad, yang sedang berjuang menata masa depannya.