Lembaga Donasi Rumah Kepemimpinan - Infaq Sewa Asrama RK Yogya Putri

Infaq sewa asrama rumah kepemimpinan regional yogyakarta putri angkatan 13

Infaq Sewa Asrama RK Yogya Putri

Lokasi Donasi DI Yogyakarta

Sampai dengan Tanpa Batas Waktu



Bantu sebarkan program ini melalui sosial media

Infaq sewa asrama rumah kepemimpinan regional yogyakarta putri angkatan 13

Deskripsi Program

 

 

Zikra Fataha Al Mustansir (R3 — Yogyakarta Putri) mengenal Rumah Kepemimpinan (RK) bukan sebagai “program seminar” yang datang sebentar lalu selesai. Buat Zikra, RK adalah beasiswa dengan dua hal yang paling menentukan: asrama dan pembinaan.

 

Ia merasa sangat diuntungkan diterima di program asrama, karena ia paham satu hal: membentuk karakter paling efektif bukan lewat materi satu-dua jam, tapi lewat hidup 24 jam di dalam lingkungan yang membentuk. Di luar sana, banyak training leadership, komunikasi, atau karier. Tapi yang membuat RK terasa spesial adalah pembinaan dari hal paling kecil, sesederhana bangun pagi, habituasi setelah bangun, sampai pembinaan formal yang lebih terstruktur.

Lebih dari itu, Zikra bersyukur karena RK mengajarkannya merancang mimpi dengan konkret. Bukan sekadar “punya impian”, tapi benar-benar disusun: diminta menulis 100 mimpi, merancang hidup 100 tahun, bahkan menulis skrip obituari, seolah RK berkata, “hidupmu jangan berjalan tanpa arah.”

Kalau ada satu adegan yang paling “RK banget”, Zikra langsung teringat kalimat: “Pemimpin muda: siap!” Tapi yang paling membekas justru ritual harian: bangunin subuh. Setiap hari selalu ada tantangannya, dan dari situlah latihan konsistensi dimulai.

 

Perubahan paling nyata pada Zikra terlihat dari cara ia menyikapi kesempatan. Dulu, saat ada momen untuk show up, ia justru minder dan overthinking karena perfeksionis. Sekarang, ia merasa seperti “Zikra versi berani”: kalau tidak ada kesempatan, ia mencari, bukan menunggu.

Contohnya nyata: sejak masuk kuliah, Zikra hampir tidak pernah ikut lomba. Tapi setelah masuk RK, ia memberanikan diri ikut lomba pertama, dan tantangan itu justru bikin ia “ketagihan” berkembang. Ia mulai menantang diri ikut lomba setidaknya sebulan sekali.

Ada juga masa ketika Zikra benar-benar drop. Ia sudah berusaha maksimal menyiapkan proposal skripsi, bahkan sampai 12 jam lebih di perpustakaan. Tapi semua terasa percuma saat target sempro 2025 terbentur realita: dosen pembimbingnya sibuk, bimbingan hanya sebentar, dan ia merasa ingin menyerah, marah pada keadaan.

Di titik itu, yang menyelamatkan bukan motivasi kosong. Zikra punya RK. Ia punya fasil yang bisa diajak cerita, yang membantunya melihat persoalan lebih luas, lebih tenang, dan mengembalikannya pada Allah. Ia belajar menerima takdir dengan lapang: fokus pada usaha dan doa yang berada dalam kendalinya. Dan pada akhirnya, ia sadar: mungkin Allah sedang menguji sabarnya, seberapa kuat ia bertahan.

Tanggal 30 Desember, ia akhirnya sempro. Bahkan Allah seperti memberi hadiah lebih: sempro berjalan dengan revisi yang minim, hanya minor, dan ada pujian dari dosen. Sebuah momen yang menutup fase berat dengan rasa syukur yang utuh.

Bagi Zikra, asrama menjaga satu hal yang paling rapuh jika ia hidup sendirian: konsistensi. Di RK, peserta terbiasa membuat target, dan target itu memberi arah untuk dilakukan setiap hari. Ditambah lagi, melihat teman yang sevisi dan sama-sama berjuang menjadi benteng yang menjaga konsistensi itu tetap hidup.

Karena itu, Zikra bisa membayangkan apa yang hilang kalau angkatan berikutnya harus online tanpa asrama: bukan sekadar bangunan, tapi pembiasaan harian. WBS terasa lebih “hidup” saat offline. Diskusi spontan di asrama adalah proses bertumbuh yang nyata. Tanpa asrama, Zikra membayangkan kebingungan kecil yang dampaknya besar: nanti lari bareng siapa? olahraga bareng siapa? berangkat kajian bareng siapa?

Jika asrama “padam”, dampaknya juga nyata pada target hidupnya tahun ini: rencana lulus bulan Mei (bertepatan dengan kelulusan RK) akan terganggu karena ia harus segera mencari tempat tinggal dan memikirkan biaya lebih awal. Bahkan proyek kolaborasi bisnis yang ia jalankan bersama salah satu sesrikandi, yang proses produksinya selama ini dilakukan di asrama, akan menghadapi tantangan besar jika ruang itu hilang. Dan pembiasaan-pembiasaan baik yang selama ini terjaga akan lebih mudah rapuh.

Karena itu, Zikra menitipkan satu pesan sederhana untuk para donatur:

“Tolong amankan asrama karena asrama adalah fasilitas fisik yang menjembatani ke fasilitas-fasilitas yang lebih besar: membangun kebiasaan secara efektif, mempertemukan orang-orang dengan visi yang sama, dan menjaga lingkungan yang supportif.”

Bantu sebarkan program ini dengan menjadi Fundraiser (penyebar amal baik)

atau Anda bisa membantu menyebarkan kebaikan

Sosial media terkait program